Jakarta, 12 Mei 2026 (Bakamla RI/Indonesia Coast Guard) –-- Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Dr. Irvansyah, S.H., M.Tr.Opsla., menjadi narasumber dalam Kuliah Pakar Program Studi Keamanan Maritim Fakultas Keamanan Nasional Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) dengan mengangkat tema “Selat Malaka dan Selat Sunda di Persimpangan Krisis: Mengamankan Arteri Energi Dunia di Tengah Konflik Timur Tengah dan Rivalitas Laut China Selatan”. Kegiatan dilaksanakan secara daring, Selasa (12/5/2026).
Dalam paparannya, Kepala Bakamla RI menegaskan bahwa dinamika geopolitik global saat ini telah menempatkan Selat Malaka dan Selat Sunda sebagai kawasan strategis yang menghadapi tantangan keamanan maritim semakin kompleks.
Kepala Bakamla RI memaparkan empat isu utama yang menjadi fondasi kajian tersebut. Pertama, Selat Malaka sebagai chokepoint energi nomor satu dunia yang memiliki peran vital terhadap jalur distribusi energi global. Kedua, krisis Hormuz yang berdampak langsung terhadap perubahan pola pelayaran dan distribusi energi internasional. Ketiga, rivalitas Laut China Selatan yang terus meningkatkan tensi geopolitik kawasan. Dan terakhir, transformasi ancaman maritim yang kini berkembang semakin modern, adaptif, dan multidimensional.
Lebih lanjut, Kepala Bakamla RI menekankan dampak dari krisis berlapis tersebut terhadap Indonesia, di antaranya kerentanan energi nasional yang sangat dalam, kenaikan harga energi akibat gangguan rantai pasok global, serta peningkatan risiko kecelakaan laut akibat lonjakan traffic pelayaran yang semakin dramatis di jalur strategis nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bakamla RI juga membeberkan enam modalitas ancaman yang saat ini aktif dan perlu diantisipasi secara serius, yakni perampokan bersenjata atau sea robbery yang mengalami peningkatan, penggunaan drone laut, praktik GPS jamming dan spoofing, jaringan pengiriman minyak terlarang, sabotase infrastruktur bawah laut, serta terorisme maritim dan sabotase terhadap kapal komersial.
Sebagai respons strategis terhadap berbagai ancaman tersebut, Kepala Bakamla RI menekankan pentingnya kehadiran keamanan yang kredibel melalui patroli yang konsisten, penegakan hukum yang tidak pandang bulu, serta kemampuan respons cepat terhadap berbagai insiden di laut. Selain itu, kerja sama regional yang terstruktur dan penguatan Maritime Domain Awareness yang komprehensif juga menjadi kunci dalam menjaga stabilitas keamanan maritim nasional.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bakamla RI turut memaparkan konsep pengembangan teknologi Eyes in the Sky 2.0, sebuah program berbasis satelit dan kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendeteksi serta mencegah kejadian luar biasa atau black swan event di perairan Indonesia.
Mengakhiri paparannya, Kepala Bakamla RI berharap melalui kuliah pakar tersebut akan lahir berbagai gagasan inovatif mengenai pengamanan laut Indonesia berbasis teknologi modern guna memperkuat ketahanan dan keamanan maritim Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang. (Humas Bakamla RI)
Autentifikasi: Pranata Humas Ahli Muda Mayor Bakamla Yuhanes Antara, S.Pd
Foto-foto: Humas Bakamla RI
ID
EN